RSS

28-Oktober

28 oktober. Hari ini, tepat aku duduk di depan kolam parterre. Seperti biasa, ikan-ikannya membuat kolam ini terlihat ramai. Andai saja sisinya bukan jalan raya, mungkin terasa lebih tenang-hanya ada ikan-ikan yang ramai meredupkan kegaduhan.
Aku sendiri, duduk di sisinya menggenggam handphone, berharap ada yang menghubungi, walau hanya untuk mengucapkan sepatah-dua patah kata. Tapi naas, tak ada sama sekali.
Ku pandangi orang-orang disekitarku, tampak tak ada yang beda dari orang-orang yang ku lihat kemarin. Andi saja mereka tahu. Aku hanya terdiam, mulai tampak seperti orang kebingungan.
Parterre mulai sepi. Aku berniat pulang. Tapi segera ku urungkan.
Sekilas aku melihat truk besar di jalan raya-dengan cepatnya melewati antrean. Secepat itu pula aku mendengar suara yang sangat keras. Orang-orang di parterre kontan lari menuju arah suara itu berasal. Aku yang tak tahu apa-apa ikut berlari seperti mereka, mengarah pada sumber suara menakutkan itu berasal.
Aku berusaha melewati kerumunan. Rasa penasaran ini membuatku ingin segera melihat apa yang terjadi. Orang-orang di belakangku begitu anarki, mendorong agar mereka dapat melihat kejadian di depan. Aku terpontang-panting di buatnya.
Kerumunan semakin banyak. Aku merasakan hentakkan di pundakku, sangat keras-hingga aku terjatuh di tengah kerumunan orang-orang itu. Tak sadar dengan yang terjadi.
Orang-orang itu memandangiku dengan aneh. Gadis berjilbab coklat yang juga duduk di kursi parterre tadi, melihatku dengan wajah yang aneh. Kadang menyandarkan kepalanya ke pundak teman disampingnya, kemudian melihat ke arahku lagi. Menutup mulut dengan tangannya lalu dia menangis. Tangisan yang sangat pilu. Aku dapat merasakan segukan itu.
Orang-orang hanya mampu memandangi dengan tatapan heran, ada semburat ketakutan dan rasa kasihan di mata mereka.
Jauh di sampingku, truk besar yang tadi ku lihat telah berubah bentuk. Kacanya pecah dan badan mobil sebelah samping terlihat penyok seperti habis menabrak benda dengan sangat keras. Suasana jalan raya ramai sekali dengan kerumunan orang.
Aku yang sejak tadi menjadi pusat perhatian orang-orang itu merasa risih. Orang-orang berpakaian satpam mulai membereskan kado-kado milikku yang terbungkus rapi dengan kertas warna-warni yang tercecer disampingku. Orang berpakaian polisi itu mengangkat tubuhku yang berlumuran darah ini ke dalam sebuah mobil. Aku ingin sekali bertanya “mau di bawa ke mana?”, tapi aku tak bisa.***
** ParterreI281010

0 komentar:

Posting Komentar