RSS

ANTARA KEBINGUNGANKU

Membayangkan harus terdiam, menanti akan hal yang tidak pernah bisa dibayangkan. Terasa hampa seakan saraf tidak berfungsi lagi. Pejaman mata pun terasa tak sanggup lagi. Terbangun, namun penuh gelisah, bingung.
Berusaha memahami keadaan tanpa ingin dibuat pusing. Berdiri kaki pun terasa gemetar tersiram butiran putih tajam yang begitu halus menguraikan gelombang rambut, merasuki setiap pori kulitku terdiam sesaat memaksa merasakan setiap hembusan angin yang membuatku selalu terdiam dibuatnya.
Menyusuri jalan yang teramat panjang, tatapanku jauh tak tarhalang apapun. Terasa lelah sekali sampai aku berharap untuk segera menemui ibu, entah kenapa ibu selalu melenyapkan lelahku tapi aku harus terus berjalan.
Kuhela nafas sejenenak. Kugerakan kepala dan berpaling dari langit. Kupandang jalan tanah yang belum selesai kutempuh.
Aku kembali berjalan perlahan. Gesekan demi gesekan terlewati oleh sandal jepitkuyang ikut melangkah. Awan kembali tersingkap. Angin telah menggiringnya ke tepi. Matahari kembali memanggang bumi dengan radiasi sinarnya.
Aku menyeka keringat yang mengalir deras di pelipis. Kugerakan kaki perlahan menuju lindungan pohon asam yang berada tidak jauh dari tempatku berhenti. Pohon asam itu besar dan kekar jika dia punya mulut pasti aku akan di telannya dalam wujud manusia.
Aku duduk dan bersandar pada kulit asem yang kasar. Ku atur nafas untuk menata detak jantungku yang berpacu lebih cepat. Semilir angin berhembus perlahan.
“Kau terlihat leleh sekali?”
Suara besar dan serak menyentuh telingaku. Rasa kaget membuatku menengok ke segala arah, tapi tak ada siapa-siapa. Hanya jalan tanah yang kosong.
“Aku hanya sejengkal dari tempatmu,”suara itu mengagetkanku lagi. Aku kebingungan. Sejengkal sebelah kiriku tak ada apapun. Sejengkal sebelah kananku … ada! Ada seekor ulat daun yang merayap pelan. Ekor mengelombang-kepala maju. Ulat yang lucu. Lalu aku berteriak spontan, “wahai ulat, kau kah yang menyapaku?”ulat itu berhenti. Aku terperangah. Namun, ulat itu kembali berjalan tanpa menyahut teguranku. Kalau begitu siapakah yang menyapaku? Malaikatkah? Kuukur sejengkal di depanku. Tanah. Hanya tanah kering dan aku yakin dia tidak punya mulut. Sejengkal di belakangku adalah pohon asam tempatku bersandar … pohon asam? Kudongokan kepalaku, seketika ku lihat raut wajah yang besar-wajah pohon asam. Dia mengulas senyum dengan bibirnya yang kasar dan lebar itu. Ternyata pohon asam itu punya mulut.
“Kau tidak akan menelanku, bukan?” tanyaku dengan kepala masih mendongak.
“Tentu saja tidak,” jawab pohon asam dengan mata bersinar. Dia ramah padaku. Aku tersenyum padanya. Kali ini tidak mendongak lagi. Aku masih bersandar, kemudian memejamkan mataku.
“Apakah kau akan tidur?”
“Untuk apa kau pertanyakan?”
Pohon asam menggerak-gerakan rantingnya. “tak apa, aku hanya ingin tahu.”
“Aku tidak tidur, hanya ingin melepas leleh sebentar.”
“Syukurlah. Sebab aku ingin berbincang-bincang denganmu.”
Pohon asam itu menggerak-gerakan rantingnya hingga daun-daun yang menguning berjatuhan menghujani kepalaku.
“Kalau boleh aku tahu dari mana kamu datang?”
“Dari lubang cahaya di ujung jalan sana. Sampai disini mungkin tidak akan terlihat dengan teropong dan dari ketinggianmu. Aku sendiri tak tahu mengapa aku harus mengalami perjalanan panjang sementara anak-anak seusiaku sedang asyik bermain .”
“Berapa lama kau berjalan?”
“Aku tak menghitung hari.”
Pohon asam terdiam. Mungkin ia kehabisan kata-kata.
“Hai, jadi manusia itu mudah, ya?”
“Bagiku jadi manusia itu sulit.”
“Mengapa? Bukankah kamu memiliki banyak prinsip dan pegangan?”
“Tidak juga.”
“Tapi, aku sering mendengar kabar dari manusia ,”kata pohon asam, “banyak dari mereka yang hidup bersenang-senang, menghambur-hamburkan harta , bahkan mengonsumsi narkoba demi khayalan semata-mata menghilangkan frustasi untuk sementara. Enak sekali.’
“Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu arti hidup, seprti apa hidup itu, dan bagaimana harus hidup,’ kataku.
Angin berhenti berhembus. Sinar matahari terasa panas menyelubungi kulit gelapku. Aku bangkit.
“Mengapa kau tidak memberitahukan padaku semua kunci kehidupan manusia yang seharusnya?” Tanya pohon asam .
“Untuk apa? Kau hanya sebatang pohon, bukan manusia.”
“Jika aku manusia?”
“Setiap manusia mempunyai hati nurani yang akan menuntun mereka. Tak perlu khawatir akan kehilangan arah, kecuali kalau kita suka membohongi diri sendiri. Manusia akan mau memperbaiki kesalahannya jika mereka telah mendapatkan musibah besar dari yang kuasa. Aku sendiri tak tahu, apakah ini musibah untukku sehingga aku sampai berada disini. Aku harus kembali berjalan, aku tak mau sampai kehilangan arah seumur hidupku,” ucapku
“Berjalanlah kau, kuharap manusia tersadar tanpa ada musibah.”ucap pohon asam
Aku terus berjalan dan merenungi kejadian yang baru saja kualami. Berbincang dengan pohon asam … rasanya mustahil. Tapi kualami. Hingga ku terbangun dari tidur dengan tatapan yang masih kabur. Memandangi seluruhnya, terasa tatapanku kosong mendengar suara tanpa tahu asalnya, aku berusaha meraih pintu, setiap langkah kakiku terasa berat membawa beban dengan getaran yang teramat kuat.
Pantaslah aku yang baru saja terbangun dari mimpi yang membuatku bingung tidak mengetahui kejadian di kostan kami, guncangannya begitu kuat dan suara gemuruh yang begitu keras, “mungkinkah???” Pertanyaan demi pertanyaan selalu terlintas di pikiranku, berharap pikirku hanya selintas rasa takut yang takan pernah jadi kenyataan.
“GEMPA????” “mungkinkah?”selintas pertanyaan ini membuat otakku bekerja lebih keras.
“Ayo! Kenapa kau hanya terdiam? Cepat lari, semua penghuni kostan sudah keluar, cepat! Lari ke tempat yang aman..”ucap salah seorang temanku
Kenapa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya terdiam tanpa bisa berucap terasa sulit untuk bergerak. Kejadian ini baru kali pertama kualami.
Aku baru menyadari sejak aku merasakan tarikan di tanganku, lamunanku buyar secepat temanku membawaku keluar dari dalam kamar.
“Ada apa ini?”tanyaku dalam kebingungan dan masih dalam keadaan berlari
“Sudah, yang penting sekarang kita turun tinggalkan saja semua yang penting sekarang kita menyelamatkan diri dari gempa ini.” ucap temanku sambil terus menarik tanganku menjauh dari bangunan dan pohon yang mungkin saja bisa menimpa kami
Aku masih tidak ingin terbangun dari mimpi buruk ini, gempa yang tadi ada di pikiranku sekarang terjadi di bawah kakiku. Getaran yang baru pertama kali kurasakan terasa aneh bukan hanya sulit untuk melangkahkan kaki, tapi getaran yang sangat kuat ini membuat mual dan naik menyerang kepalaku.
Sekarang aku benar-benar bingung, apa yang seandainya bisa aku lakukan. Masalah ini begitu mudah untuk orang lain tapi mengapa aku begitu tergesa ingin memahaminya. Mengapa otakku berhenti seketika dan aliran darah ini begitu deras membuat jantungku berdetak cepat seakan ingin lari dan menjebol dadaku. Dalam keadaan seperti ini aku benar-benar merasa tolol berfikir tanpa ingin tahu hasilnya.
Akhirnya kami berhenti di tengah lapang kebun milik siapa? Kurasa itu tak terlalu penting. Aku ketakutan setengah mati, ingin rasanya menumui ibu dan menumpahkan ketakutan ini di pelukannya.

Tanah ini masih bergetar, di hadapanku tumbang sebuah pohon asam yang tidak terlalu besar. Kenapa harus pohon asam itu, sementara diujung sana masih ada pohon-pohon yang lebih besar yang kurasa tumbang pun wajar. Entahlah … tapi pohon asam yang tumbang itu mengingatkanku pada mimpi yang baru saja kualami. Mimpi yang membuatku lelah dan membawaku pada kejadian dahsyat yang baru pertama kali kualami.
Mungkin ini sebuah taguran kecil dari Tuhan kepada kami yang masih saja lalai, yang belum menyadari arti hidup. tak tahu lah, saat ini yang kuinginkan hanya ketenangan.
Getarannya pun berhenti. Kulihat raut wajah orang-orang disekitarku mulai tenang. Temanku pun membawa ku kembali ke kostn setelah ketua rukun warga menjelaskan bahwa ini hanya gempa kecil yang tidak akan terulang kembali untuk saat ini-keadaan aman.. Sebagian warga bergotong royong membersihkan pohon asam yang tumbang tadi. Sebelumnya aku hanya melihat tayangan semacam ini di televisi, namun tak seperti ini-lebih parah sampai merubuhkan bangunan mewah nan megah.
Aku bersyukur tak kehilangan arah seumur hidup…

0 komentar:

Posting Komentar