Surya mulai merangkak kembali ke peraduannya, semakin kabur menuju poros bumi, entah berapa lama mereka mengapakan butir sinarnya. Ternyata khayalku makin terjal menapaki opera peradilan yang memacu hasrat untuk membangkang. Terintas lagi wajah ayu seorang wanita yang begitu mencintaiku, tetapi dapat dikatakan bahwa dia mencintai dengan cara yang salah. Ibu, wanita yang selama ini mengajariku dengan doktin-doktin realistis,
tetapi malah tertangkap sangat tidak nyata dan tidak masuk akal. Selalu merasa tenang jika memandang wajah ibu, tentunya selagi dia tertidur, mana sempat aku memandangi wajah ibu jika dia tak sedang terjaga, walau sedetikpun. Tiga puluh enam tahun, usia ibuku yang sepertinya terlalu muda untuk memiliki aku, anaknya yang kini berumur dua puluh tahun. Wajah ibu memang masih segar, bagai strauberi, atau jeruk yang kita nikmati saat terik mulai merambat di kerongkongan. Rambutku mewariskan gen dari ibu, tebal, pekat dan begitu lembut. Sutra saja akan mengalah malu jika aku bendingkan dengan mahkota yang ibu dan aku miliki. Bila sudah berdandan, ibu paling suka menggoreskan warna nila di kelopak matanya yang bulat dan tajam, dan suka pula menyapukan warna merah pada pipinya yang bentuk tulangnya sempurna, dan berakhir pada dagu runcing yang terbelah di bagian tengahnya. Halis tebal yang dibentuk melengkung indah bagai bulan sabit yang benderang, begitu elok. Hidungnya yang mancung menjadi sorot daya tarik setiap orang yang melihatnya, karena ibu adalah keturunan Arab-India dan melayu. Masih dalam kaki yang ku dekap di bawah sudut jendela rumah kami, ya rumah kami. Sampai disebut kami karena tak terhitung lagi berapa jumlah penghuninya. Puluhan? Salah, karena ternyata ratusan, terlalu banyak orang yang hilir mudik, datang tengah malam dan pulang pagi di rumah ini. Hotel kata mu?! Bukan, tak ada meja resepsionis, room service, atau sekedar pelayanan dari pihak tertentu. Di sini pelayanan hanya untuk individu-individu yang membawa mangsanya, mangsa itu berarti pasangannya. Entah pasangan dalam hal apa, yang jelas satu orang laki-laki dapat memiliki dua, tiga, empat bahkan sepuluh tergantung ketebalan dompetnya. Ya semua bergantung kekayaan yang mereka bawa kemari.
Mudah saja bagi pria yang berdasi merah marun dan berkumis tebal itu, hampir setiap malam dia tak pernah absen menghiasi rumah ini yang selalu gelap hanya bermandi cahaya kelap kelip seperti bintang di langit. Maafkan aku bintang, kau telah aku jadikan deskripsi yang sangat tidak sebanding dengan indahmu. Dari kegelapan itu semuanya hina, terlihat sangat hina, semua orang berpeluk-pelukan, berciuman, dan menapaki setiap inci tubuh teman-teman ibuku yang tak pernah melepaskan topengnya. Di rumah ini, banyak perempuan cantik yang umurnya sebaya denganku, 20 tahun. Usia yang seharusnya dipergunakan untuk mencari jati diri dalam kehidupan, tetapi aku pernah bertanya pada Nelly si perempuan berambut pirang, dan dia jawab disinilah dia menemukan jati dirinya. Apa?! Jati diri macam apa yang ada di tempat seperti ini? Dari balik etalase, para wnita yang seluruhnya mengenakan topeng, hanya ditandai dengan nomor yang tergantung di bawah lehernya. “Mami, aku sih kaya biasa aja si 27, masih kenceng kan tarikannya?” kata seorang lelaki yang aku rasa sudah berumur 50 tahunan, dan mami menjawab, “iya dong, anak-anak mami kan rajin di service ke bengkel, pasti dijamin bakal negbut but..but..but...!!” Mami itu aku anggap nenekku sendiri, karena dia yang manjadi pemimpin di rumah ini. Wajah sudah keriput, tetapi selalu dia tutupi dengan make up yang tebal.
Setiap pukul sembilan malam, rumah ini mulai ramai, dan itu arti aku harus segera bergegas pindah ke lantai dua, kamar yang menjadi saksi sepiku disetiap detik yang menari meninggalkan detik sebelumnya. Padahal besok aku ada kuliah pagi, tetapi harus tetap tidur dengan suara musik yang sangat keras, sesekali terdengar suara rintihan laki-laki dan perempuan dari kamar sebelah, yang saling bersahutan. Kalau sudah begitu, aku suka melemparkan beberapa barang ke arah pintu, kadang bedak, farfum, sandal atau apa saja yang dapat aku raih. Kali ini pun begitu, tetapi tiba-tiba mami membuka pintu kamarku yang tak sempat aku kunci. “Heh anah jadah, lekas tidur, aku ga mau semua tamuku pada minggat gara-gara ulahmu! Kalau bukan karena ibumu yang sudah menjadi pemain senior, aku tidak sudi menampungmu disini!” bentaknya dengan nada yang kasar, membuat aku menrasa merinding. Kali ini ibuku sedang pergi ke luar kota, seharusnya ibu pulang malam ini. Ibu sudah janji padaku akan membawakan kue ulang tahun dan menemaniku meniup ke dua puluh lilin kecil yang meyala di atasnya. “Anggun, ibu janji, pasti ibu akan pulang saat jam belum melangkah pada hari behagiamu” kata ibuku dengan suara lembutnya yang selalu aku rindukan. Walaupun aku tahu, ibu pergi untuk mencari uang dengan cara yang salah, aku tetap sayang padanya.
Aku sering memergoki ibu sedang bersama seorang laki-laki di kamar tidur, terakhir saat satu minggu yang lalu sebelum ibu pergi ke luar kota. Malam itu, rumah ini kebanjiran tamu. Dan seperti biasa, kamar ini yang menjadi saksi kunci akan pelecehan seksual akan dimulai. Aku tidur di dawah tempat tidur, sembunyi dari ketakutan, aku takut adalah ibu yang ada di atas kasur ini. Dan ternyata tak salah aku mengucap, ini memang ibu. Langit pekat di luar sana semakin bergelayut manja pada malam, menepiskan batas surga neraka. Setiap jengkal tubuh ibu, telah dilumuri kecupan lelaki itu. Kasihan ibu, dia terpenjara dalam terali harta yang buat membuta. Demi aku. Seperti kamuflase yang bermain dingin di otakku. Sangat pekat asap rokok dan bau minuman keras yang hampir mematahkan sendi-sendiku, memudarkan dimensi cinta antara aku dan ibu. Dan masih tentang malam yang tak mendengar tangis dan bisikku mengucap kata “ibu...ibu...” tetapi tetap tak berarti, suara desahan mereka yang terus meronta, hampir memcahkan gendang telingaku. Satu persatu, di hadapku sudah berjartuhan pakaian ibu dan lelaki itu. Dan aku tahu mereka sudah saling menyatu, merebahkan tubuh-tubuh kemunafikan, dalam hasrat yang semakin membrutal. Menjadi dingin, menjadi angin, menjadi anjing, karena mereka kini seperti binatang. Ibu kemudian terbanting ke lantai tepat di atas tubuh kekar lelaki itu, sepertinya dia binaragawan. “Ah...aku tak peduli!!”, hampir tak tertahan suaraku tadi yang akan menyeterku masuk gudang karena telah memnggangu ibu. Ibu akan menjadi jahat, kejam dan penuh amarah jika sudah bersama laki-laki. Padahal aku selalu berharap, itu adalah ayah, ya lelaki yang setengan darah daginnya mengalir di etiap nadiku. Setiap aku bertanya pada ibu, “ibu, ayah dimana ya, aku sudah lelah dan menyerah menahan kerinduan ini.” Dengan nada tinggi ibu menjawab, “dengar ya anak setan, sekali lagi kamu bertanya dengan mengais-ngais nama ayah, aku tidak segan-segan mengeluarkan kuliahmu!! Aku tidak mau mengorbananku selama ini akan hancur oleh anakku sendiri yang mencari ayahnya. Heh..dengar ya anak jadah, kalaupun ayahmu ada, belum tentu akan mengakuimu sebagai anaknya. Kamu kira aku suka setiap malam bercinta dengan lelaki yang berbeda, dijamah dengan brutal oleh mereka?! “ ibu menyambarku dengan suara berang yang menakutkan, menumpahkan semua isi dalam otaknya akan kebencian dari nama ayah. “Tetapi ibu selalu menikmatinya kan, ibu selalu terlihat nyaman diantara mereka, bahkan setiap hembusan nafasmu kau bingkiskan untuk mereka!” Lalu ibu menjambak rambutku yang diikat ekor kuda, “goblok...aku tidak pernah menikmati semuanya anak setan!” dengan kedua matanya yang melotot penuh emosi.
Lalu aku kebali tersadar ketika aku mendengar ibu menjerit, mereka masih ada depanku. Pakaian mereka yang terjatuh, ternyata menutupi kepalaku dari pandanga lelaki itu, atau jikalau dia melihatku pasti tak akan mau peduli. Tuhan, apa yang ku lihat, ibu sedang dicambuk dengan gesper kulit kulit berwarna hitam milik lelaki itu, apa salah ibu, biar aku saja yang dicambuk dan merasakan setiap titik badanku terluka. Karena kali ini hatiku lebih terluka melihat ibu. Setelahnya, mereka kembali berciuman, dan meneguk secangkir anggur. Lalu memulainya lagi, seperti binatang, lelaki itu berada di atas tubuh ibu, dan mereka berpelukan. Andai saja itu ayah, mungkin aku tidak akan terus tersedu di kolong ini. Kembali mereka di atas tempat tidur ini, kini selimut dari bulu angsa yang berwana hitam mendapat giliran jatuh dari atas kasur. “ah..jangan gila kau Herman, jangan kau gigit!” hanya itu kalimat yang terucap dari mulut ibu, setelah akhirnya lelaki itu berkemas dan meninggalkan beberapa lembar uang merah dan biru. Ibu seperti sudah berlari ribuan kilo dan meneteskan berjuta keringan rasa lelah. Dan aku masih disini.
Aku menginginkan cinta yang sesungguhnya, cinta yang nyata. Ah ternyata aku tak fasih mengucap cinta. Terlalu menguras energi membayangkan sebuah cinta. Sering ibu berkata, “jangan kau bermain dengan cinta, nih lihat ibu saja dapat hidup dan membesarkanmu tanpa mencintai seorang lelaki! Apa cinta akan membuat perutmu kenyang? Persetan dengan cinta!” sungguh jawaban yang tidak aku harapkan keluar dari mulut ibu.
Sering aku ingin keluar dari dunia seperti ini, dunia yang tak aku mengerti ini, tetapi apakah di luar sana aku akan mengerti kehidupan? Di kampus saja aku sulit bersosialisasi, aku merasa seperti mereka semua tahu siapa aku dan siapa ibuku. Seolah mereka paham dengan keseharian ibuku, padalah tak pernah ada seorang pun yang menanyakan ibuku. Aku jadi seringa kehilangan pesona dimanapun. Bukan, bukan aku menyalahkan ibu, tapi aku menyalahkan keadaan yang terjadi. Tetapi sekali lagi ibu selalu menguatkanku, dia bilang, “jangan memperdulikan orang lain yang akan mengunci mimpi kita, dan jangan menghiraukan orang lain yang akan mengubur asa dan cita kita!” perkataan yang akan selalu aku ingat sampai kapanpun. Tuhan, ternyata sudah hampir pukul sebelas malam, dan ibu belum juga datang, kabar lewat sms pun raib tak ada yang peduli denganku yang menanti kepulangan ibu. Sepertinya aku harus melewatkan malam spesial ini seorang diri, tanpa kue ulang tahun, lilin-lilin kecil yang menari diatasnya, dan terlebih dengan ibu. Sebaiknya aku tidur. Aku sudah terbiasa dengan janji ibu yang terlalu sering tidak dia tepati, ya besok atau lusa atau lusanya lagi aku masih bisa bertemu dengan ibu. Kecewa, pasti aku rasakan. Baru sedetik memejamkan mata, terdengar suara yang membukakan pintu kamar ini. Dalam dekapan hangat selimut bulu angsa berwarna hitam ini, aku berusaha memutar otakku, menebak-nebak siapa yang tengah datang. Dan dari alunan langkahnya yang harmonis, ternyata itu adalah ibu. Aku sengaja tidak terperanjak bangun, aku ingin ibu meninta maaf dulu dengan lembut padaku, sehingga aku bisa bermanja-manja dalam dekapannya.
Sudah terlalu lama aku menunggu dekapan itu, dan bisikan selamat ulang tahun, tetapi tak kunjung aku dengar. Mata ini aku buka sediki, hanya sedikit, bahkan malaikatpun tak akan tahu kalau aku sedikit membuka mata. Ternyata ibu sedang memandangiku, dan serentak memeluku, sampai pecahnya tangis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lalu ibu berkata sambil mengelap air matanya yang hampir melunturkan kecantikannya, “Anggun, kau sudah besar nak, malam ini kau genap dua puluh tahun, dulu diusia ibu saat dua puluh tahun, aku sibuk menyurusimu, membagi waktu antara meperjaan dan kasih sayang yang selalu tertahan karena kesibukanku.” Ibu makin menahan tangisnya yang malah semakin lirih, aku tak berani untuk membuka mata, seolah ketakutan terbesarku terlukis di sudut mata ini.
Aku masih terpaku, bingung dengan apa yang harus kuperbuat. Trtapi sepertinya berjuta kesediahan dan luapan air mata sudah membantah tak tertahankan. Aku terbangun dan memeluk ibu yang masih duduk di hadapannku. Perasaan ini campur aduk, seperti anggur yang terjatuh dari cawannya sebelum tertuang ke dalam gelas. Puluhan ribu menit berlalu dan kami hanya tersedu saling memeluk.
oleh : Elly Lisnawati

0 komentar:
Posting Komentar