Berucap seakan benar!
Langkah kakiku terarah ke tempat penuh sesak aktivitas mahasiswa yang kadang membuatku tak mengerti, menapa masih saja ada kegiatan seperti itu? Aku terus melangkah kesebuah bangku di pinggir kolam. Selayang ku dengar percakapan mereka. haa,, sungguh aneh orang-orang itu, membicarakan yang bukan menjadi hak mereka. Aku tetap tidak puduli! Ku percepat langkahku menuju kolam itu. Tapi sayang, aku harus terhenti di bawah pohon cemara. Tampak daunnya yang hijau. “Ku rasa aku akan berteduh di sini”. Aku segera duduk dibawahnya, beralaskan rumput basah
. Mungkin habis tersiram hujan. Hujan di subuh tadi cukup membuat basah rumput hijau ini..
Sambil menulis cerita yang sekarang sedang ku tulis, aku memperhatikan orang-orang sekitar tidak ada bedanya dengan ku, mahasiswa yang tidak punya kesibukan atau mungkin di antaranya adalah mahasiswa yang aktif dalam ormawa-ormawa di kampus dan kegiatan lainnya.
Ku lirik jam dihandphone sudah menunjukan pukul 09:23, seorang yang berjanji menemuiku pukul 09:00 itu belum juga menandakan akan segera tampak dihadapanku. Aku mencoba menghubunginya, tapi pulsa dihandphone-ku tidak cukup untuk meneleponnya.
Dalam kesendirian, aku selalu terbayang masa depan. Seakan masa depan adalah masa lalu yang dapat dengan jelas terlintas dipikiranku. Aku terbayang, aku dan dia menjalani hari-hari bersama dalam sebuah atap yang telah Tuhan jadikan sebagai hidup kami. Ahhhh…. indah sekali rasanya, membayangkan aku dan dia ada disebuah ranjang, menyelami ketakterbatasan yang abstrak, berbagi suka dan duka bersama, bersama menjalani hidup sebagai suami-istri.
Seketika aku harus menghentikan lamunan ini. Seorang anak kecil dengan tampang lusuh, pakaian yang menutupinya terlihat-bolong dibagian punggung. Membawa sebuah benda. Aku kira itu sebuah alat musik yang terbuat dari tutup botol dan sebuah kayu yang dipakai untuk mengiringinya bernyanyi. Kuperhatikan anak ini. Dia berhenti bernyanyi. Aku memberinya selembar uang. Dia segera pergi, padahal aku ingin sekali bertanya sedikit tentangnya-pertanyaan yang mungkin sulit untuk dia jawab.
Pukul 09:53. Kupikir dia sudah terlalu terlambat. Mungkin kebanyakan orang akan marah ketika harus menunggu selama ini. Aku coba bersabar dan mencari alasan agar aku tidak “bt” menunggu.
Aku ingin sekali mendekati kolam itu, membelai airnya hingga muncul suara lembut air yang membuatku merasa senang. Aku tidak tahu mengapa aku sangat mengagumi air. Kurasa air tak pernah mamilih-selalu memberi. Tak ada air yang tidak dibutuhkan. Karena aku merasa tak berguna. Ahh…. itu hanya pikiran ku saja..
Tidak ku hitung lagi berapa lama aku duduk di bawah pohon cemara beralaskan rumput basah yang sekarang cahaya matahari telah riang menyinariku melalui celah-celah ranting dan daun pohon cemara. Aku berharap dia segera datang, aku senang walau hanya sekedar melihatnya. kurasa dia akan datang setelah kupikir dia akan menepati janjinya..
Aku terus menunggu tanpa kabar yang jelas. Aku akan tetap di sini sampai aku merasa bosan dengan keinginanku. Sampai hujan turun……. Lagi.
Partere|022310
u_r

0 komentar:
Posting Komentar