RSS

Utara yang Menuntunku Menemukan Arah


3 Juni 2023, ketika langit masih memeluk pagi dengan lembut, lahirlah seorang cahaya kecil yang kemudian menata ulang seluruh isi hidupku.
Aku melihat wajahnya—El Zea Utara—dan seketika aku tahu bahwa dunia yang dulu kukenal tak akan pernah sama lagi.
Detik itu, seluruh arah hidupku bergeser.
Dulu aku hanyalah seorang perempuan biasa, menjalani hari seadanya, menaruh mimpi di sudut-sudut yang kadang tak terpikirkan.
Namun dengan kelahiranmu, Zea, aku terlahir kembali.
Aku menjadi seseorang yang baru: lebih kuat, lebih hidup, lebih penuh cinta daripada sebelumnya.

Sejak hari pertama, kau membawa ketenangan yang jarang dimiliki bayi seusiamu.
Kau seolah datang ke dunia ini dengan pemahaman yang halus, seakan tahu bahwa perjalanan kita tidak selalu mudah, dan kamu ingin memudahkan jalanku.
Tangismu selalu sepantasnya, tidak pernah lebih.
Kau tidak pernah membuatku atau siapa pun merasa kewalahan.

Saat malam tiba dan dunia terlelap, kau pun tidur tanpa banyak resah, tidak begadang, tidak gelisah.
Tidurmu teratur, tenang, rapi—seakan ritme kecilmu diberkahi oleh langit agar aku dapat beristirahat, agar tubuhku mampu bertahan, agar hatiku tetap kuat.
Dan setiap pagi, ketika sinar matahari menyelinap dari celah jendela, kau terbangun dengan damai.
Tidak ada tangis, tidak ada rewel—hanya mata bening yang menatapku, seakan berkata,
"Mama, kita mulai hari lagi ya, bersama-sama."
Ada kekuatan yang tumbuh dari pandangan kecil itu, kekuatan yang membuatku merasa mampu menjalani apa pun.

Ketika masa MPASI datang, aku menyadari bahwa kau bukan hanya anak yang pengertian, tapi juga anak yang hebat dan mudah memenuhi kebutuhan tubuhnya sendiri.
Makanan apa pun yang kusajikan selalu kau terima dengan lahap, tanpa ragu, tanpa susah.
Seolah kau mengerti bahwa tubuhmu perlu bertumbuh, perlu belajar, perlu berkembang.

Dan tepat di usia satu tahun, kau memilih untuk berhenti minum susu formula.
Dengan cara yang paling halus, seakan ingin menunjukkan bahwa kau siap melangkah satu tahap lebih dewasa dari usiamu.
Anak kecil yang hatinya begitu besar.

Motorikmu—baik halus maupun kasar—berkembang dengan apik, seperti bunga yang kelopaknya mekar satu per satu tepat pada waktunya.
Kau meraih benda dengan hati-hati namun percaya diri, kau berjalan dengan langkah-langkah kecil yang penuh keberanian, dan setiap gerakanmu seperti menegaskan bahwa kau tumbuh sesuai dengan irama yang telah Tuhan tuliskan untukmu.

Lalu, di usia 14 bulan, ketika banyak anak masih belajar mengucapkan kata, kau sudah bisa bernyanyi.
Lagu pertama yang kau hapal adalah Cicak-cicak di Dinding.
Suaramu kecil, bening, kadang tidak sempurna, tapi bagi seorang ibu—bagi diriku—itu adalah lagu terindah yang pernah ada.
Aku masih ingat bagaimana wajahmu bersinar saat kau menyanyikannya, seolah baru menemukan cara baru untuk mencintai dunia.

Belum genap 20 bulan, bibir mungilmu mulai melafalkan surat Al-Fatihah.
Meski huruf-hurufnya belum fasih, setiap suku kata yang keluar darimu terdengar seperti doa yang melesat langsung ke langit.
Ada sesuatu yang sangat suci dalam usaha kecilmu itu—seperti mengingatkan bahwa meski dunia luas dan hidup sering melelahkan, selalu ada cahaya yang memandu kita.
Dan cahaya itu, Zea, kamu yang membawanya kepadaku.

Kini, di usiamu yang 2.5 tahun, kau tumbuh menjadi anak yang cerdas, cantik,  salihah, dan selalu penuh pengertian.
Kau bukan hanya tumbuh dalam tinggi dan usia, tapi juga dalam hati, dalam nurani, dalam kelembutan yang jarang kumengerti asalnya.
Kau mengajariku banyak hal tanpa pernah berniat mengajar: cara untuk lebih sabar, cara untuk lebih pasrah, cara untuk melihat dunia dengan mata yang lebih lembut.

Kadang aku menatapmu dan bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang yang begitu kecil bisa mengubah hidupku sedalam ini.
Bagaimana mungkin bahu kecilmu mampu memikul begitu banyak harapan?
Bagaimana mungkin tangan mungilmu mampu menarikku keluar dari rasa lelah, rasa takut, dan rasa sendiri?

Tapi mungkin begitulah takdir bekerja: Ia mengirimkan seseorang yang kecil, namun dengan cinta yang besar; seseorang yang rapuh, namun dengan kekuatan yang tak terlihat; seseorang yang hadir tanpa suara, namun mampu menggetarkan seluruh hatiku.

El Zea Utara, dari seluruh perjalanan hidupku, kaulah bagian yang paling indah.
Kelahiranmu bukan hanya permulaan hidupmu, tapi juga kelahiran ulang diriku.
Dan setiap hari bersamamu adalah pengingat bahwa cinta seorang ibu tidak pernah berkurang—hanya bertambah, bertambah, dan terus bertambah.

Terima kasih telah datang sebagai anugerah, sebagai cahaya, sebagai
utara yang menuntunku menemukan arah.

Semoga langkah-langkahmu selalu Allah lindungi; semoga hatimu selalu Allah lembutkan; semoga lidahmu mudah menghafal ayat-ayat-Nya; dan semoga aku tak pernah berhenti menjadi tempat pulang yang paling nyaman untukmu.
Kaulah utara yang Allah kirimkan untuk menunjukkan arah.

Dan untukmu, Zea, ibumu akan mencintaimu hingga akhir waktu, dan memohon kepada Allah agar kita dipertemukan kembali di surga-Nya kelak.

-Dari Bubu yang Cintanya Selalu Bertambah-

Zea usia 10 hari


waktu bayi Zea tidur di baby box

usia tiga bulan Zea makin mbul

Zea main di pantai pal 5

Zea suka bobo di bantal bareng boneka Zio namanya

Zea usia 7 hari

mainan kesukaan Zea

baru bangun bobo

santai di gazebo samping rumah duduk di sofa balon

bayi pintar bobonya selalu nyenyak tanpa bantal

Zea habis makan bubur hati ayam

main ke cafe "Sambal Bakar"

zea foto pakai baju dari Om Heru

usia 8 bulan foto di rumah dengan fotografer 

baca buku dinosaurus

waktu di hotel Ambon

foto dengan fotografer Om Dar Zea usia 8 bulan

cosplay jadi sapi

baby montoknya Bubu

di samping rumbel Zea mau jalan sore

bersama boneka beruang

Zea makan jagung pulut rebus yummy

makan lahap sampai habis paling suka makan finger food

Zea bolo-bolo

main capit boneka di MCM Zea dapat dua boneka

main di MCM usia 11 bulan

menuju Ambon naik kapal cepat

Zea paling suka pegang bunga

ulang tahun Zea yg pertama dirayakan sederhana di rumbel

gemesnya mau main ke rumah kakak Uti

uluh uluh

main ke Dufan

beli parfum di BBW Mall GI

senyummu, Ze.

mulut penuh makanan tapi gak lupa pose

cobain sandal di melissa

pakai rok ini jalannya Zea jadi kaku hehe

paling suka baca buku

minta di foto Bubu dengan gaya bikin sendiri

moment lebaran 2025

foto di bandara Namniwel waktu menjemput Ibu Gubernur 2025

ceritanya lagi jualan pampers


di pantai Baikole Jikumerasa

makan di Ta Wan MCM

di RS Leimena jemput ade Utun baru lahir

pose sampaul majalah

main di MCM sampai kehausan

di hotel Zest Ambon jenguk ade utun

makan di cafe shereen Namlea Zea paling suka ayam bakarnya

petik bunga untuk Bubu

ulang tahun kedua Zea paling meriah dan Zea dapat banyak hadiah dari teman-teman

0 komentar:

Posting Komentar