RSS

Perempuan Tanpa Bab Awal

Cerpen oleh Ulyriana

Aku selalu merasa, sejak kecil, bahwa hidupku dimulai dari sebuah kekosongan. Seperti kertas putih yang tiba-tiba seseorang isi, entah dengan gambar, entah dengan coretan.

Tidak ada memori tentang tangan ibu kandung yang pertama kali mendekapku, tidak ada cerita tentang ayah kandung yang menimangku sambil tersenyum bangga.

Asalku seperti buku tanpa bab pertama—langkahku dimulai dari halaman tengah, tanpa prolog, tanpa penjelasan, tanpa nama yang ditanamkan dengan cinta sejak aku lahir.

Aku tumbuh dalam keluarga yang kusebut rumah, bersama pasangan yang kupanggil “Mama” dan “Papa.” Dalam tutur kata mereka, tidak pernah ada kejujuran langsung tentang siapa aku sebenarnya. Namun dunia seakan berlomba-lomba membisikkan hal-hal yang seharusnya belum waktunya kudengar.

Aku masih kecil saat pertama kali mengerti: aku bukan darah mereka. Bukan tulang mereka. Bukan bagian dari tubuh mereka yang tercipta dari cinta.

Aku tahu bukan dari mulut mereka, tapi dari bibir-bibir orang dewasa yang tidak tahu menjaga rahasia.
Dari tetangga yang berbisik sambil melirik. Dari kalimat yang terdengar samar namun cukup jelas untuk mengoyak hati seorang anak kecil.

Seketika itu, dunia di sekelilingku berubah. Rumah yang tadinya terasa hangat tiba-tiba seperti ruang asing yang penuh tanda tanya.

Namun aku memilih diam. Menutup telinga. Menutup mulut. Menutup rasa ingin tahuku yang mulai tumbuh. Karena aku tahu—mengungkap bahwa aku tahu hanya akan membuat segalanya lebih kacau.

Jadi aku menanam rahasia itu dalam-dalam, seperti benih yang tidak ingin tumbuh.

Dalam kesunyian itu, aku sering menatap cermin dan bertanya: “Wajah siapa ini? Siapa yang kubawa di mata, di hidung, di kulitku?” Tidak ada jawaban. Dan aku terbiasa hidup tanpa jawaban.

Meski tidak tahu asal usulku, masa kecilku sebenarnya tidak buruk. Segala kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku dibelikan pakaian baru, makanan enak, perhatian penuh.

Aku seperti pusat orbit dalam rumah itu—kecintaan mereka seperti matahari yang selalu bersinar untukku. Setidaknya, itulah yang kurasakan… sampai hari orang tuaku melahirkan anak kandung.

Sejak detik itu, aku menyaksikan bagaimana kasih sayang bisa berubah secepat kilat. Dari cerah menjadi kusam, dari hangat menjadi jauh, dari penuh menjadi tersisa.

Senyuman yang dulu sering diberikan padaku mulai berkurang. Panggilan sayang berubah nada. Hal-hal kecil yang dulu tidak dipermasalahkan kini menjadi alasan mereka meninggikan suara bahkan tak segan melayangkan tangan, kaki atau benda apapun yang berada dalam jangkauan untuk menghantam tubuhku.

Aku yang dulu dipeluk, kini lebih sering ditegur. Aku yang dulu dibanggakan, kini lebih sering dipinggirkan.

Di tengah perubahan itu, muncul luka-luka kecil yang tak terlihat, yang diucapkan melalui kata-kata yang seharusnya tidak pernah diberikan kepada seorang anak:

“Buluk!”
“Kenapa kulitmu begini?”
“Hitam banget kamu!”

Kata-kata yang tampak sederhana, tapi jika terus diulang, perlahan menusuk, tinggal sebagai bekas yang tidak hilang oleh waktu.

Kadang aku ingin bertanya, “Jika aku lahir dari tubuhmu, apakah kau masih akan berkata begitu?” Tapi pertanyaan itu hanya hidup dalam hati, tak pernah keluar, takut merusak apa yang masih tersisa.

Ketika waktu memilihkan usiaku untuk menentukan masa depan, aku ingin belajar kebidanan. Ada sesuatu di dalam diriku yang terpanggil untuk merawat, membantu, menyambut kehidupan.

Namun impian itu runtuh saat aku mendengarnya: 
“Tidak ada dana.” 
“Adikmu mau masuk kepolisian, itu lebih penting.”

Saat itu, aku benar-benar paham, bahwa di rumah itu, kasih sayang untukku memiliki batas. Bahwa aku bukan prioritas. Bahwa mimpiku boleh ada, tapi tidak harus diwujudkan.

Aku akhirnya kuliah seadanya, jurusan yang tidak sepenuhnya kupilih, tapi kupaksa untuk kusukai.

Setiap malam aku bertanya, “Kalau aku anak kandungmu, apakah kau akan melarangku bermimpi?”

Pertanyaan itu menggantung lama, kadang terasa, kadang menjadi dingin tak bersuara.

Namun aku tetap melangkah. Meskipun luka mengiringi, kupaksa kakiku berjalan ke depan.

Hidup membawaku ke Bandung. Kota yang jauh dari kampung halaman, jauh dari suara keras, jauh dari aturan yang mencekik. Anehnya, justru di jarak itu, aku menemukan kedamaian.

Orang tuaku mulai melunak. Mereka tidak lagi mengomel, tidak lagi menghina, tidak lagi memanggilku dengan sebutan yang merendahkan.

Setiap kali aku pulang saat liburan, mereka memperlakukan aku seperti tamu yang dihormati. Sikap mereka berubah, mungkin karena usia, mungkin karena penyesalan, atau mungkin karena aku sudah tidak tinggal di bawah atap yang sama.

ditambah saat aku menikah, perlakuan mereka benar-benar berubah total. 
Lembut.
Tenang.
Tanpa cacian.
Tanpa hinaan.

Namun memori masa kecil itu melekat seperti bekas luka—tidak lagi perih, tapi tidak sepenuhnya hilang.

Kini aku memasuki usia 27 tahun dengan dada yang lebih lapang. Aku tumbuh menjadi wanita yang kuat, ibu yang penuh kasih, jiwa yang tidak lagi mudah runtuh.

Asalku masih misteri. Aku tidak tahu dari rahim siapa aku lahir. Tidak tahu siapa ayah kandungku. Tidak tahu apakah mereka mencariku atau melupakanku.

Tetapi semakin dewasa, aku semakin mengerti bahwa kadang bukan asal-usul yang menentukan seseorang—melainkan bagaimana ia bertahan, bagaimana ia bangkit, bagaimana ia memilih menjadi manusia yang lebih baik meski berasal dari cerita yang tidak lengkap.

Aku tidak mencari orang tua kandungku bukan karena tidak peduli, tetapi karena hatiku sudah terlalu penuh oleh perjalanan yang kuhadapi. Aku memilih menerima, meski tanpa semua jawaban.

Kini, saat aku memeluk anakku, aku tahu bahwa sudah cukup bagiku mengetahui siapa aku sekarang. Aku bukan lagi anak yang menangis diam-diam karena kata-kata kasar. Aku bukan lagi gadis yang berharap diakui. Aku bukan lagi remaja yang bertanya apakah ia layak dicintai.

Aku adalah perempuan yang memilih untuk menghentikan luka,
dan menggantinya dengan cinta yang utuh untuk anakku sendiri.

Dan mungkin…
meski aku tidak tahu dari mana aku berasal,
aku tahu ke mana aku ingin pergi.

Aku ingin membawa kasih, bukan mengulang luka.
Aku ingin menjadi rumah, bukan sekadar atap.
Aku ingin menjadi ibu yang tidak pernah membuat anaknya bertanya apakah ia diinginkan.

Karena hidup telah mengajarkanku satu hal paling penting:

Kadang seseorang datang dari cerita yang tidak sempurna, agar ia bisa menciptakan cerita yang lebih baik untuk generasi berikutnya.

Dan di sanalah aku berdiri sekarang— bukan sebagai anak yang hilang, tetapi sebagai perempuan yang akhirnya menemukan dirinya, meski tanpa mengetahui dari mana ia berasal.

0 komentar:

Posting Komentar